Sabtu, 28 Maret 2015

Strategi Paling Ampuh Dalam Trading Forex

Anda mungkin sudah trading forex sejak beberapa tahun terakhir, atau mungkin saja baru memulai beberapa bulan terakhir, atau mungkin baru beberapa hari terakhir saja. Terlepas dari “durasi” trading Anda, tentu Anda senantiasa mendambakan memiliki Strategi Paling Ampuh Dalam Trading Forex. ciamik alias canggih, dalam arti bisa memberikan keuntungan yang besar bagi Anda. Itu normal, asalkan Anda sadar bahwa secanggih apa pun sistem trading yang Anda miliki, tidak menjadi jaminan bahwa Anda akan benar-benar terbebas dari resiko. Tentu Anda sudah sadar bahwa resiko adalah bagian dari trading.

Holy Grail
Yang tidak normal adalah upaya pencarian sistem yang konon bisa MENGHILANGKAN FAKTOR RESIKO alias ZERO-RISK trading system. Di dunia trading, hingga kini mitos tersebut masih tumbuh subur, dikenal dengan istilah “holy grail of trading”.

Holy Grail sendiri, dalam literatur Medieval disebutkan sebagai cawan suci yang dipergunakan oleh Yesus Kristus dalam perjamuan terakhir. Dalam legenda King Arthur, para Ksatria Meja Bundar diperintahkan untuk mencari cawan suci tersebut, yang diyakini memiliki banyak keajaiban.

Dalam trading forex, istilah “holy grail” merujuk pada sebuah strategi yang bisa memberikan “keajaiban” bagi penggunanya, berupa keuntungan terus menerus tanpa pernah “dicemari” oleh kerugian barang sedikit pun.

Bukan hanya tak normal, upaya pencarian “holy grail of trading” ini (selanjutnya dalam artikel ini disebut sebagai holy grail saja) juga irasional. Mengapa? Karena memang tidak ada holy grail dalam trading. Itu hanya mitos.

Dewasa ini, mungkin ada beberapa robot atau sinyal trading yang diklaim sebagai holy grail. Benarkah? Pada kenyataannya, tidak pernah ada fakta yang menunjukkan bahwa sistem atau robot tersebut memang benar-benar ajaib. “Legenda” tentang beberapa strategi atau robot cenderung dibesar-besarkan oleh para “pujangga forex penjual mimpi”. Holy grail mulai “naik pangkat” dari mitos menjadi legenda yang masih menggoda mereka yang mendambakan kekayaan lewat cara instan. Agar lebih meyakinkan calon pembeli, legenda itu dikemas seilmiah mungkin agar bisa memasuki pikiran manusia modern yang senantiasa mencari penjelasan logis.

Hm… mirip dengan apa yang dilakukan Dan Brown dalam novel “The Da Vinci Code”-nya, ya?

Robot forex
Apa sih sebenarnya robot forex itu?
Robot forex adalah program yang dikembangkan untuk membantu trader melakukan transaksi secara otomatis sesuai dengan logika atau algoritma pemrograman tertentu. Tujuan lainnya adalah untuk mengurangi “faktor manusia” dalam trading, dalam arti mengurangi keterlibatan emosi si trader (kita tahu persis bagaimana emosi bisa mempengaruhi hasil trading kita). Istilah lain untuk robot adalah automated trading.

Di era serba otomatis ini, para penganjur robot mengasumsikan bahwa kemampuan Anda untuk menganalisa chart secara manual sangatlah terbatas. Tak mungkin Anda bisa memelototi grafik 24 jam sehari. Untuk itulah robot hadir dengan program yang telah dirancang khusus untuk menganalisa chart dan menggantikan peran Anda dalam melakukan transaksi. Ia akan mengeksekusi setiap sinyal yang muncul bahkan di saat Anda tidur sekalipun, dengan penuh disiplin menjalankan strategi forex yang telah ditanam dalam algoritma programnya.

Untuk lebih meyakinkan Anda, para penjual robot ini akan mendemonstrasikan bukti kemampuan robot tersebut. Mereka akan melampirkan bukti hasil pengujian robot tersebut: profit yang tinggi dan konsisten dan drawdown (tingkat potensi kerugian) yang rendah. “Holy grail telah ditemukan! Dapatkan hanya dengan $500!” mungkin itu kalimat penutup dalam email penawaran yang dikirimkan untuk Anda.

Bolehkah menggunakan robot?
Kami tidak menentang penggunaan robot trading. Tidak. Dalam banyak hal, robot trading memiliki keunggulan, semisal kedisiplinan dalam mengeksekusi sinyal, mengatur besaran lot, hingga mengatur batasan resiko.

Kami hanya ingin mengingatkan bahwa secanggih apa pun, robot tersebut pasti – PASTI – memiliki kelemahan. Robot itu PASTI disusun berdasarkan strategi forex tertentu yang pasti memiliki keterbatasan.

Bahwa sebuah strategi bisa menghasilkan banyak profit di masa lalu, tidak menjadi jaminan bahwa strategai yang sama akan memberikan hasil yang sama di masa datang. Sebagai contoh, sebuah strategi yang disusun untuk keadaan market sideway tak akan bekerja dengan baik dalam keadaan market trending.

Dus, menggunakan robot boleh-boleh saja. Yang tak boleh adalah percaya 100% bahwa robot itu adalah holy grail dan PASTI akan bisa memberikan keuntungan yang besar dan cepat untuk kita. Robot hanya sebuah mesin, sehingga kontrol kita atas mesin itu mutlak diperlukan. Di kala mesin tersebut tak bisa bekerja dengan baik, tugas kitalah untuk mencari tahu di mana “error”-nya.

Kesimpulannya?
Jika semua robot memang bisa memberikan keuntungan yang fantastis sebagaimana klaim pembuat/penjualnya, maka akan sangat tidak logis jika mereka menjualnya. Para trader telah berupaya “mengalahkan” pasar selama beberapa generasi, menggunakan berbagai macam strategi forex yang bahkan beberapa di antaranya melegenda (seperti Elliott Wave Theory, atau Turtle Traders), tidak satu pun di antara mereka yang bisa benar-benar mengalahkan pasar secara harfiah. Semua legenda trading pernah loss. Para trader terkemuka masa kini pun – percayalah – masih menghadapi resiko yang sama.

Jika memang ada orang yang bisa benar-benar mengalahkan pasar, sudah barang tentu ia akan menjadi “selebriti”. Ia akan diundang ke berbagai seminar di seluruh dunia, didekati bahkan “dipinang” oleh perusahaan-perusahaan finansial raksasa. Upah dari memberikan seminar atau bekerja untuk perusahaan finansial raksasa saja tentu jauh lebih besar daripada sekedar menjual sistem seharga $500. Ia akan lebih suka “menyewakan” strateginya dengan upah tertentu atau persentase tertentu dari keuntungan yang diperoleh berdasarkan strategi forex-nya itu. Lebih masuk akal, bukan?

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk menentang penggunaan robot. Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan agar kita tidak menjadi silau akan gemerlap balance statement para penjual robot. Menggunakan robot – sekali lagi – sah-sah saja. Menganggap robot – atau strategi apa pun – sebagai holy grail, ibarat hidup di alam dongeng.

Bijaksanalah.

by Eko Trijuni, Sumber : foreximf

Jumat, 20 Maret 2015

Profit Forex Dengan Stochastic Oscillator dan RVI

Hello guys, untuk strategi forex kali ini kita masih akan menggunakan indikator RVI (Relative Vigor Index) yang kemarin juga sudah kita kombinasikan dengan Bollinger Bands. Kali ini RVI kita akan kombinasikan dengan indikator Stochastic Oscillator. Kombinasi kedua indi ini sangat bagus untuk mendeteksi harga dalam keadaan jenuh beli maupun jenuh jual.

Setting Indikator
Stochastic Oscillator
RVI (Relative Vigor Index) indicator.

Open Sell ketika Indikator Stochastic berpotongan kebawah diarea overbought 80. Indikator RVI juga harus berpotongan kebawah diatas level 0. (Lihat kotakmerah)

Open Buy ketika Indikator Stochastic berpotongan keatas diarea oversold 20. Indikator RVI juga harus berpotongan keatas didibawah level 0. (Lihat kotak biru)

Untuk penerapannya bisa kita lihat di chart GBPUSD timefrime H1.


Baca juga strategi kombinasi antara RVI dan Bollinger Bands, siapa tau aja bisa jadi inspirasi juga. Salam Profit.

Rabu, 18 Maret 2015

Trading Dengan Bollinger Bands dan RVI

Setelah kemarin kita membahas strategi scalping menggunakan Bollinger Bands, kali ini kita akan share strategi trading sederhana dengan menggukan 2 indicator yang sudah ada di software metatrader, yaitu menggunakan indikator Bollinger Bands dan RVI (Relative Vigor Indeks). Dalam strategi ini kita dapat menemukan signal beli maupun jual dengan sangat mudah. Kita bisa menjual di area overbought dan membeli di area oversold.

Setting Indicator
Bollinger Bands
RVI (Relative Vigor Indeks)

Signal BUY
Ketika harga turun dan candel sudah meyentuh garis Bollinger Bands bagian bawah, itu tandanya kita siap-siap akan melakukan OP BUY. Tunggu hingga harga bergerak keatas (terjadi candel buy). Hal ini juga harus terkonfirmasi dengan terjadinya cros pada indicator RVI. Ketika RVI sudah terjadi crossing di bawah level 0 dan candel berusaha meninggalkan garis bawah BB, maka lakukan order BUY (lihat kotak dan garis biru)

Signal Sell
Untuk open sell berlaku kebalikannya. Jika harga naik dan sudah menyentuk garis atas BB, maka tunggu harga bergerak turun dengan disertai crossing indikator RVI diatas level 0 (lihat kotak dan garis merah).

Untuk penerapannya kita bisa coba di pairs EURJPY time frame 1 jam dibawah ini :


Strategi ini bisa digunakan untuk semua pairs, time frame yang dianjurkan minimal di H1. untuk take profit kita bisa ambil mulai dari 20-30 pips. Okeh...selamat mencoba salam profit selalu

Recent Comments